Leo Nichol lahir di rumah sempit di pinggir kota. Dindingnya tipis, suaranya gampang bocor—terutama suara ayahnya yang marah setiap pulang kerja. Sejak kecil Leo sudah terbiasa bangun sendiri, makan sendiri, dan belajar diam supaya tidak ikut terseret masalah orang dewasa. Ibunya selalu bilang "hidup itu soal bertahan, bukan soal menang." Leo mengingat kalimat itu, meski waktu itu ia belum benar-benar paham artinya. Saat anak lain pulang sekolah dengan cerita dan tawa, Leo lebih sering pulang dengan pikiran kosong. Ia bukan anak bermasalah, tapi juga bukan anak yang diperhatikan. Di bangku sekolah, ia duduk di belakang, mengamati—cara guru berbohong soal masa depan, cara teman-temannya sok berani, dan cara orang dewasa pura-pura peduli. Ayahnya pergi tanpa pesan ketika Leo berumur dua belas tahun. Tidak ada drama, tidak ada perpisahan. Hanya satu malam ketika pintu tidak pernah terbuka lagi. Sejak itu, ibunya bekerja lebih keras, dan Leo belajar bahwa janji tidak pernah punya nilai. Uang mulai terasa seperti masalah utama hidup. Bukan kemiskinan yang membuat Leo berubah, tapi rasa tidak berdaya. Ia mulai membantu orang-orang yang “kenal jalan pintas”. Awalnya hanya mengantar barang, duduk menunggu, lalu pulang dengan uang di saku. Tidak ada senjata, tidak ada darah. Hanya keputusan-keputusan kecil yang terasa sepele. Semakin besar, semakin sulit berpura-pura hidup normal. Leo berhenti sekolah di usia enam belas tahun. Bukan karena bodoh, tapi karena dunia di luar sekolah terasa lebih jujur. Di sana, orang tidak bicara soal moral—mereka bicara soal hasil. Ibunya jatuh sakit ketika Leo menginjak delapan belas. Rumah sakit mahal, waktu sempit, dan doa tidak cukup. Saat ibunya meninggal, Leo tidak menangis lama. Ia hanya merasa kosong, seperti bagian terakhir yang menahannya ikut terkubur. Setelah itu, hidup Leo berjalan tanpa arah yang jelas, tapi dengan satu prinsip: jangan pernah terlihat menonjol. Ia bekerja seperti orang biasa, tersenyum seperti orang biasa, dan hidup seperti civilian lain di kota itu. Tapi di balik itu, Leo tahu ke mana harus melangkah ketika malam datang. Ia bukan orang yang memukul, bukan yang menarik pelatuk. Leo adalah orang yang mengatur, menyambung, dan menutup celah. Ia bergerak pelan, selalu di pinggir, selalu satu langkah di belakang—tempat paling aman untuk bertahan hidup. Sekarang, di usia dua puluh lima, Leo Nichol masih terlihat seperti warga biasa. Tidak ada yang mencurigakan dari caranya berjalan atau berbicara. Tapi di dalam dirinya, ia tahu satu hal: ia sudah terlalu jauh untuk sepenuhnya kembali, dan terlalu sadar untuk benar-benar tenggelam. Leo tidak bangga dengan hidupnya. Ia juga tidak menyesal. Bagi dirinya, ini bukan soal baik atau buruk. Ini hanya tentang bertahan… di dunia yang tidak pernah memberi pilihan adil sejak awal.